MANAJEMEN KEUANGAN BAB 14
BAB 14
ANALISIS INVESTASI LANJUTAN :
PENDEKATAN ADJUSTED PRESENT VALUE
1. METODE ADJUSTED PRESENT VALUE
1.1 Kerangka APV
Variasi lain dari WACC (weighted average cost of capital,
atau biaya modal rata-rata tertimbang) dalam analisis investasi adalah APV
(Adjusted Present Value). APV menggunakan prinsip value additive (penambahan
nilai), dengan mengambil ide dari model struktur modal Modigliani Miller (MM).
Menurut MM dengan pajak, nilai perusahaan dengan utang adalahnilai perusahaan
100% saham ditambah dengan penghematan pajak dari utang (bunga bisa dipakai
sebagai pengurang pajak). APV dengan demikian dihitung dengan menambahkan
nilai, base-case plus manfaat dari pinjaman (financing) seperti berikut ini :
APV =
Base-case NPV + NPV dari keputusan pembelanjaan karena memutuskan melakukan
proyek
Base-case
NPV dihitung melalui proyek dilakukan dengan menggunakan saham semuanya (100%
saham). Sumber NPV dari keputusan pendanaan (financing decision) tidak hanya
dari penghematan pajak, tetapi juga dari sumber lain misal pinjaman yang
disubsidi oleh pemerintah.
Berikut ini contoh penggunaan APV. Misalkan suatu usulan investasi
dengan pendapatan masuk sebesar Rp.100.000.000,- pertahun selamanya. Besarnya
investasi yang diperlukan untuk investasi tersebut adalah Rp.400.000.000,-.
Tingkat keuntungan yang disyaratkan untuk pemegang saham adalah 20%. Misalkan
ada beberapa skenario seperti beriku ini :
1. Proyek dilakukan tanpa tambahan pendanaan (100% saham).
Jika proyek dilakukan dengan menggunakan saham 100%, dan di
asumsikan berlangsung selamanya, makan NPV proyek tersebut bisa dihitung
sebagai berikut ini :
NPV = - 480 juta + (100 juta / 0,2)
= +20 juta
NPV yang diperoleh sebesar Rp.20.000.000,- yang berarti
ususan investasi tersebut layak dilakukan.
2. Jika proyek dilakukan, perusahaan terpaksa mengeluarkan
saham baru. Biaya emisi dan lainnya diperkirakan sekitar 5% dari total dana
emisi saham (kotor).
Misalkan perusahaan harus menerbitkan saham baru,
perhitungan melalui pendekatan WACC bisa dilakukan dengan menghitung ualng
discount rate-nya untuk mencerminkan biaya emisi tersebut. Misal untuk
memperoleh dana sebesar Rp.480.000.000,- (bersih), perusahaan harus
mengumpulkan Rp.505.000.000,-. Selseih sebesar Rp.25.000.000,- merupakan biaya
emisi yang dipakai untuk membayar perusahaan keuangan, akuntan, dan biaya
administrasi. Biaya modal yang baru adalah sekitar 25%, yaitu 20% ditambah 5%
(Rp 25juta / Rp 50juta) biaya emisi. NPV yang baru adalah sebagai berikut ini :
NPV = -480 juta + (100
juta / 0,25) = -80 juta
NPV yang baru adalah negatif Rp.80.000.000,-, karena itu
usalan investasi tersebut sebaiknya ditolak.
3. Perusahaan menerima subsidi pinjaman murah. Bunga pinjaman
di pasar adalah 20%, tetapi perusahaan menerima bunga murah sebesar 10% dari
pemerintah. Pajak adalah 30%.
Misalkan jumlah pijaman Rp.240.000.000,-. Jika perusahaan
membayar dengan bunga pasar, maka besarnya bunga adalah 0.2 x Rp.240.000.000 =
Rp.48.000.000. karena disubsidi oleh pemerintah, maka bunga yang dibayar adalah
0,1 x Rp.240.000.000,- = Rp.24.000.000,-. Dengan demikian perusahaan menghemat
sebesar Rp.24.000.000,- (48 juta – 24 juta) pertahunnya, atau Rp.16.800.000 net
pajak ((1 – 0,3) x 24 juta). Present value penghematan tersebut bisa dihitung
dengan menggunakan discount rate yang relevan, yaitu tingkat bunga pinjaman
pasar sebesar 20%.
APV =
-480 juta + (100 juta / 0,2) + (16,8 juta / 0,2)
=
+ Rp.140.000.000,-
2. PERBANDINGAN APV DENGAN WACC
2.1 Analisis
dengan APV
Dengan menggunakan APV, maka kita akan menghitung formula
berikut ini :
APV =
NPV 100% saham + PV penghematan pajak dari bunga
=
(kas / ks) + (tingkat pajak x utang)
Karena perusahaan ingin menggunakan tingkat utang sebesar
40% dari nilai pasar perusahaan, maka kita akan menghitung nilai perusahaan
dengan utang terlebih dahulu, kemudian kita bisa menghitung besarnya utang yang
akan dimiliki oleh perusahaan. Perhitungannya adalah sebagai berikut ini :
Vd = Nilai 100% saham +
Pajak x 40% x Vd
Dimana Vd = nilai perusahaan dengan menggunakan utang. Nilai
investasi dengan 100% saham bisa dihitung berikut ini. Pertama, kita akan
menghitung kas yang tersedia untuk pemegang saham adalah sebagai berikut :
Penjualan Rp
20juta
Pajak (40%) Rp 8juta
Kas
bersih Rp 12juta
Kemudian kita bisa menghitung nilai investasi dengan 100%
saham, dengan usia investasi selamanya, yaitu Rp.60.000.000,- (12 juta / 0,2).
Vd dengan demikian bisa dihitung sebagai berikut ini :
Vd =
60 juta + (0,4) (0,4) Vd
Vd =
75 juta
Besarnya utang dengan demikian adalah 30 juta (0,4 x 75
juta). Dengan menggunakan APV, kita bisa memperoleh APV sebagai berikut ini :
APV =
(12 juta / 0,2) + (0,4 x 30 juta) – 50 juta
=
12 juta
Dengan demikian usulan investasi tersebut layak dilakukan.
2.2 Analisis
dengan WACC
Jika kita menggunakan WACC, kita akan menghitung biaya modal
rata-rata tertimbang. Pertama kita harus menghitung biaya modal saham yang
baru, yang mencerminkan tambahan utang. Karena sekarang perusahaan menggunakan
utang, maka risiko akan semakin meningkat, sehingga ks juga akan meningkat.
Tingkat bunga pinjaman (kb) adalah 15%. Dengan menggunakan formula yang
dikembangkan oleh MM seperti berikut ini, kita bisa menghitung ks yang baru :
ks =
20% + (2 / 5) (1 – 0,4) (20% - 15%)
=
22
WAAC kemudian bisa dihitung sebagai berikut ini :
WACC = (3 / 5) (22)
+ (2 / 5) (1 – 0,4) (15%)
=
16,8%
Net Present Value (NPV) dengan menggunakan WACC adalah :
NPV =
(Kas tersedia untuk pemegang saham / WACC) – Investasi
=
(12 juta / 0,168) – 50 juta
=
12 juta
Dengan demikian usulan investasi tersebut layak dilakukan.
2.3 Perbandingan
APV dengan WACC
Pembahasan di muka menunjukkan bahwa APV dan WACC secara
teoritis menghasilkan kesimpulan yang sama. Keduanya juga menggunakan aliran
kas yang tidak dipengaruhi oleh keputusan pendanaan. Keduanya berbeda sebagai
berikut ini. Pada APV, NPV dasar (base) kemudian ditambahkan dengan PV manfaat
dari keputusan pendanaan. Sedangkangkan pada WACC, pengaruh keputusan pendanaan
terlihat pada tingkat diskonto (biaya modal rata-rata tertimbang). APV
menghitung pengaruh keputusan pendanaan secara langsung. Sedangkan pada WACC
pengaruh keputusan pendanaan dilakukan secara tidak langsung, yaitu melalui
tingkat diskonto.
3. MENGHITUNG BETA UNLEVERED
3.1 Tanpa
Pajak
Untuk menggunakan APV, kita membutuhkan biaya modal saham
untuk perusahaan yang menggunakan 100% saham (ro). Dengan menggunakan formula
CAPM, biaya modal saham 100%, bisa dihitung sebagai berikut ini :
ro =
Rf + βU (Rm + Rf)
tetapi biasanya perusahaan menggunakan utang sebagian.
Jarang ada perusahaan yang menggunakan saham 100%. Kita bisa menggunakan
formula CAPM untuk menghitung biaya modal saham perusahaan (yang menggunakan
utang) sebagai berikut ini :
rs =
Rf + β (Rm – Rf)
β dalam hal ini adalah beta saham atau risiko sistematis
(karena dihitung melalui saham yang listing di bursa) yang dihitung melalui
regresi model pasar (market model), atau menggunakan formula β = Kovarians
return pasar dengan return saham/varians pasar. Model pasar bisa dituliskan
sebagai berikut ini :
Ri =
αi + βi (Rm) + ei
Βi yang diperoleh merupakan risiko sistematis saham i.
Perhatikan bahwa perusahaan biasanya menggunakan utang sehingga βi tersebut
merupakan beta yang mengandung unsur utang. Padahal jika menginginkan beta 100%
saham untuk menghitung biaya modal saham. Kita bisa melakukan penyesuaian
dengan menghilangkan pengaruh beta utang sebagai berikut ini :
Beta perusahaan dengan
saham 100% (beta aset) bisa dianggap terdiri dari beta utang dan beta saham.
Beta aset tersebut merupakan beta rata-rata tertimbang dari setiap beta
individualnya, seperti berikut ini :
ΒASET = {B
/ (B + S)} βUTANG + {S / (B + S)} βSAHAM
ΒUTANG biasanya sangat kecil, sehingga bisa dianggap nol.
Karena itu persamaan diatas bisa dituliskan sebagai berikut ini :
ΒASET = {S
/ (B + S)} βSAHAM
Dengan melakukan beberapa manipulasi, beta saham bisa
dihitung sebagai berikut ini :
ΒSAHAM = βASET {1 +
(Utang / Saham)}
3.2 Dengan
Pajak
Dalam dunia dengan pajak, kita bisa menggunakan formula
Modigliani-Miller sebagai berikut ini untuk menurunkan beta aset (beta
perusahaan dengan 100% saham).
VL = VU + tc . B = B + S
Persamaan diatas mengatakan bahwa nilai perusahaan dengan
utang sama dengan nilai perusahaan tanpa utang ditambah dengan PV penghematan
pajak. Term yang paling kanan mengatakan bahwa nilai perusahaan dengan utang
sama dengan nilai utang ditambah nilali saham.
ok
BalasHapus