Senin, 30 Oktober 2017

MANAJEMEN KEUANGAN TENTANG ANALISIS PENGANGGARAN MODAL


        ANALISIS PENGANGGARAN MODAL
           (ANALISIS USULAN INVESTASI)

Pada bagian awal, kita akan membicarakan penyusuanan aliran kas dalam penganggaran modal. Setelah aliran akas tersusun, bagian berikutnya membicarakan bagaimana mengevaluasi aliran kas tersebut. Beberapa kriteria penilaian investasi bisa digunakan untuk mengevaluasi aliran kas. Kriteria penilaian investasi mencakup beberapa teknik seperti accounting rate of return, payback period, internal rate of return, net present value, dan profitability index.

1. MENAKSIR ALIRAN KAS

1.1 Beberapa Pertimbanagan dalam Menaksir Aliran Kas

Dalam analisis keputusan investasi, ada beberapa langkah yang akan dilakukan :
Menaksir aliran kas dari investasi tersebut.
Menghitung biaya modal rata-rata tertimbang.
Mengevaluasi investasi tersebut dengan kriteria investasi seperti payback period, NPV, dan IRR.
Mengambil keputusan, apakah investassi diterima atau tidak.
Dalam menaksir aliran kas, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan :
Aliran kas versus keuntungan akuntansi.
Incremental cash flow, sunk cost, biaya kesempatan (opportunity cost) dan kanibalisasi pasar.
Fokus pada aliran kas karena keputusan investasi, buka karena keputusan pendanaan.

1.1.1 Aliran Kas versus Keuntungan Akuntansi

Fokus dari manajemen keuangan dan analisis investasi adalah kas, bukannya keuntungan akuntansi. Keuntungan akuntansi tidak selalu berarti aliran kas. Sebagai contoh, penjualan sebagian barangkali merupakan kredit, sehingga belum ada kas yang masuk. Item biaya tertentu, seperti depresiasi, juga tidak melibatkan kas. Dalam perhitungan depresiasi, tidak ada aliran kas yang berpindah tangan.

1.1.2 Incremental Cash Flow
Aliran kas yang akan kita perhitungkan adalah aliran kas yang muncul karena keputusan menjalankan investasi yang sedang dipertimbangkan. Aliran kas yang tidak relevan tidak akan masuk dalam analisis. Aliran kas yang relevan tersebut sering diberi nama sebagai incremental cash flow. Contoh aliran kas yang tidak relevan adalah sunk cost. Sunk cost adalah biaya yang sudah tertanam, dan sudah hilang. Keputusan menerima atau menolak usulan investadi tidak akan dipengaruhi oleh sunk cost. Contoh sunk cost adalah biaya fesibility study (studi kelayakan), biaya riset pemasaran. Biaya tersebut sudah keluar pada waktu analisis investasi dilakukan. Hasil riset atau studi kelayakan barangkali akan menjadi masukan (mempengaruhi) bagi analisis, tetapi uang yang sudah dikeluarkan tidak akan mempengaruhi keputusan apakah investasi dilakukan atau tidak.
Biaya kesempatan (opportunity cost) adalah item lain yang perlu diperhatikan. Sebagai contoh, jika suatu investadi dilakukan, investasi tersebut akan menggunakan gudang. Gudang tersebut sebenarnya bisa disewakan. Karena digunakan oleh proyek baru tersebut, gudang tersebut tidak bisa disewakan. Untuk analisis investasi, gudang tersebut mempunyai biaya kesempatan. Dengan dmeikian sewa yang hilang tersebut harus dimasukkan sebagai elemen biaya.
Kanibalisasi produk juga merupakan item yang relevan. Jika produk baru diluncurkan, sebagian pembeli potensial akan meninggalkan produk lam dan beralih ke produk baru. Efek bersih dari produk baru dengan demikian tidak setinggi semula, karena kanibalisasi (yang memangsa produk lam) harus dikurangkan dari perhitungan semula.

1.1.3 Fokus pada Keputusan Investasi
Dalam analisis investasi, fokus kita adalah pada aliran kas yang dihasilkan melalui keputusan investasi.aliran kas yang dihasilkan dari keputusan pendanaan harus dihilangkan/dikeluarkan dari analisis. Aliran lainnya adalah keputusan pendanaan masuk ke dalam perhitungan tingkat discount rate yang dipakai WACC (weight average cost of capital). Jika biaya bunga juga dimasukkan dalam perhitungan aliran kas, maka terjadi proses double counting, atau perhitungan ganda. Kas masuk dikurangi biaya bunga, sementara kas masuk didiskontokan dengan WACC yang memasukkan keputusan pendanaan. Dengan kata lain, efek keputusan pendanaan hanya akan terlihat di tingkat diskonto (discount rate), bukan pada perhitungan aliran kasnya.

1.2 Jenis – Jenis Aliran Kas berdasarkan Dimensi Waktu

1.2.1 Aliran Kas Awal (Initial Cash Flow)
Aliran kas awal terjadi pada awal terjadi pada awal kegiatan investasi. Biasanya diasumsikan terjadi pada tahun ke-0 (sebelum investasi dilakukan). Aliran kas tersebut biasanya merupakan aliran kas keluar (cash outflow). Biasanya kas keluar tersebut dipakai untuk investasi pada aktiva tetap (pabrik dan aktiva tetap lainnya) dan investasi pada modal kerja. Tanpa modal kerja, kegiatan investasi tidak akan jalan. Investasi menyediakan pabriknya (aktiva tetap), sementara modal kerja (piutang, persediaan) dibutuhkan agar pabrik bisa berjalan. Perhitungan kebutuhan modal kerja bisa dijumpai pada bab mengenai modal kerja.

1.2.2 Aliran Kas Operasional (Operational Cash Flow)
Jika aktiva tetap (misal pabrik) sudah berdiri, investasi mulai menghasilkan aliran kas masuk dari misalnya penjualan. Aliran kas operasional biasanya merupakan aliran kas masuk, yang diperoleh setelah perusahaan beroperasi. Biaya yang dikeluarkan, misal biaya promosi dan biaya operasional lainnya, jumlahnya lebih kecil dibandingkan dengan kas masuk. Investasi modal kerja bisa juga dilakukan pada tahun-tahun ini. Pada tahun-tahun tertentu, ada kemungkinan perusahaan melakukan perbaikan signifikan pada aktiva tetapnya, misal overjaul atau pergantian mesin. Dalam situasi semacam ini, ada kemungkinan kas keluar lebih besar dibandingkan dengan kas masuk. Perusahaan akan memperoleh aliran kas negatif pada tahun tertentu, jika perusahaan melakukan overhaul mesin seperti yang disebutkan tadi.

1.2.3 Aliran Kas Terminal (Terminal Cash Flow)
Aliran kas terminal terjadi pada akhir proyek investasi. Biasanya ada dua item yang terjadi pada akhir proyek : (1) Penjualan nilai residu aktiva tetap, (2) Modal kerja kembali. Pada akhir proyek, ada kemungkinan aktiva tetap masih mempunyai nilai pasar. Sisa tersebut kemudian bisa dijual dan menghasilkan kas masuk pada akhir proyek. Investasi modal kerja biasanya diasumsikan kembali lagi pada akhir proyek pada tingkat 100%. Investasi modal kerja tidak didepresiasi setiap tahun. Dalam situasi yang lebih realistis, investasi modal kerja mungkin tidak kembali 100% pada akhir proyek. Barangkali ada kerusakan atau penyusustan lainnya, sehingga investasi modal kerja bisa kembali tidak penuh, sehingga bisa kembali, misal sekitar 90% dari nilai investasi modal kerja.

2. KRITERIA PENILAIAN INVESTASI
Ada beberapa kriteria yang bisa dipakai untuk mengevaluasi rencana investasi ;
1. Payback Period
2. Discounted Payback Period
3. Accounting Rate of Return
4. Net Present Value
5. Internal Rate of Return
6. Profitability Index

JENIS-JENIS KEPUTUSAN PENGANGGARAN MODAL

Penambahan dan perluasan fasilitas
Produk baru
Inovasi dan perluasan produk
Penggantian (replacements) (a) penggantian pabrik atau peralatan usang (b) penggantian pabrik atau peralatan lama dengan pabrik atau peralatan yang lebih
Menyewa/membuat atau membeli
Penyesuaian fasilitas dan peralatan dengan peraturan pemerintah, lingkungan, dan keamanan
Lain-lain keputusan seperti kampanye iklan, program pelatihan dan proyek-proyek yang memerlukan analisis arus kas keluar dan arus kas masuk.

PRINSIP DASAR PROSES PENGANGGARAN MODAL

Penganggaran modal pada dasarnya adalah aplikasi prinsip yang mengatakan bahwa perusahaan harus menghasilkan keluaran atau menyelenggarakan kegiatan bisnis sedemikian rupa sehingga hasil imbuh (marginal revenue) produk sama dengan biaya imbuhnya (marginal cost).
Prinsip ini dalam kerangka penganggaran modal berarti bahwa perusahaan harus melakukan tambahan investasi sedemikian rupa sehingga perolehan imbuh (marginal returns) investasi itu sama dengan biaya imbuhnya. Daftar berbagai proyek investasi dari hasil yang tertinggi hingga yang terendah mencerminkan kebutuhan perusahaan akan modal untuk investasi.
Biaya imbuh dari berbagai daftar investasi itu memberi petunjuk tentang upaya perusahaan untuk memperoleh tambahan modal guna membiayai investasi. Biaya imbuh modal berarti sejumlah biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan untuk memperoleh dana dari luar (misalnya meminjam atau menjual saham dan biaya tumbal/opportunity cost dari dana sendiri yang dapat diperoleh.

1 komentar: